Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan
punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga
tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu
tangan yang mana semua gadis di sekelilingku membawanya, Aku mencuri
lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya.
Beliau
membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat
bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar
siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu,
kalian berdua layak dipukul." Ayah mengangkat tongkat bambu itu
tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkram tangannya dan berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya".
Tongkat panjang itu menghantam
punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga dia
terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi
yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai
mati, Kamu pencuri tidak tahu malu."
Malam itu, ibu dan aku
memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi
dia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu,
saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian
untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin.
Aku tidak pernah akan lupa
tampang adikku ketika dia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8
tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di
SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.
Pada saat
yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah Universitas Propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya,
bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak
kita memberikan hasil yang begitu baik." Ibu mengusap air matanya yang
mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan
keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan
sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan
tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.
"Mengapa kamu
mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya
mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai
selesai."
Dan begitu, kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun
itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa
ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki
harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan
untuk tidak lagi meneruskan ke Universitas.
Siapa sangka keesokan
harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan
beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di
atas bantalku.
"Kak, masuk ke Universitas tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang." Aku memegang kertas
tersebut diatas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20 tahun.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi,
aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di Universitas).
Suatu hari,
aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana."
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan
melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
pasir.
Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana
penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu."
Aku merasa
terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari badan
adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak
perduli omongan siapa pun, Kamu adalah adikku apa pun juga.
Kamu
adalah adikku bagaimana pun penampilanmu." Dari sakunya, dia
mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya
kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku
tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
pelukkanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20 tahub.
Aku 23 tahun.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita." Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah
adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu
melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela
baru itu."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu
sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya
bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan.."
Ditengah
kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air
mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia
26
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku
dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami,
tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali
meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan
menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada
departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia
bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari,
adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia
mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi
menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus
melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka
yang begitu serius.
Mengapa kamu tidak mau mendengar kami
sebelumnya?" Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, dia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi
air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah. "Tapi
kamu kurang pendidikan juga karena aku." "Mengapa membicarakan ke masa
lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, dia berusia 26 dan aku
29.
Adikku kemudian berusia 30 tahun ketika dia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara
perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan
kasihi?" Tanpa berpikir dia menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan
dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat
kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang
berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk
pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan
satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya.
Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di
rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai
ia tidak dapat memegang sumpitnya.
Sejak hari itu, saya
bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik
kepadanya." Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan
perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah ku ucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Semoga Cerita Kisah Nyata yang inspiratif dan Mengharukan di atas dapat
kita ambil hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya
Blog gadis desa merupakan blog dari beberapa kumpulan kisah nyata yang terjadi dalam kehidupan, dan semoga para pembaca mampu mengambil hikmah dari berbagai kisah yang akan di posting pada blog ini untuk menjadi pedoman agar lebih menghargai dan mensyukuri kehidupan
Rabu, 10 Februari 2016
Ungkapan Hati Paling Menyentuh Melalui Gambar
Gambar biasanya dipakai seseorang untuk mengungkapkan isi hatinya. berikut ini akan kami suguhkan beberapa gambar yang berisi kata-kata paling mengharukan yang mewakili perasaan seseorang
kisah cinta afrizal
WAAAAUUU,,, keren ,,,,,
kisahnya mengharukan dari seorang suami yang sangat menyayangi anak dan istrix ini menjadi booming di facebook,,,,
dan mampu menguras air mata siapapun yang menbacanya
kisahnya mengharukan dari seorang suami yang sangat menyayangi anak dan istrix ini menjadi booming di facebook,,,,
dan mampu menguras air mata siapapun yang menbacanya
SEMUA AKAN KEMBALIU KE ASALNYA
Karya Hikari Suri
“Jenni, kalo kita udah dewasa mau gak jadi istriku?”
Jenni tertawa ketika mengingat kata-kata itu, 15 tahun telah berlalu, hingga kini dirinya berumur 22 tahun, dirinya masih mengingat kata-kata yang diucap Reyhan itu padanya. Bahkan dia dengan bodohnya berharap mungkin Reyhan akan kembali ke Jakarta setelah sekian tahun pergi tanpa kabar, kemudian mewujudkan janjinya dulu padanya. Dengan segera, Jenni menggelengkan kepala mencoba meyakini hal itu gak bakal terwujud, namun dirinya tetap gak bisa menghalangi sebuah harapan masih tersisa dihati kecilnya. Dipandangnya rumah sebelah yang dulu ditempati Reyhan, yang kini hanya ditempati tukang kebun saja. Jenni pun yakin, Reyhan pasti sesekali masih kesana untuk sekedar beristirahat, tapi kenapa dia gak mengunjunginya?
“Jenni, kalo kita udah dewasa mau gak jadi istriku?”
Jenni tertawa ketika mengingat kata-kata itu, 15 tahun telah berlalu, hingga kini dirinya berumur 22 tahun, dirinya masih mengingat kata-kata yang diucap Reyhan itu padanya. Bahkan dia dengan bodohnya berharap mungkin Reyhan akan kembali ke Jakarta setelah sekian tahun pergi tanpa kabar, kemudian mewujudkan janjinya dulu padanya. Dengan segera, Jenni menggelengkan kepala mencoba meyakini hal itu gak bakal terwujud, namun dirinya tetap gak bisa menghalangi sebuah harapan masih tersisa dihati kecilnya. Dipandangnya rumah sebelah yang dulu ditempati Reyhan, yang kini hanya ditempati tukang kebun saja. Jenni pun yakin, Reyhan pasti sesekali masih kesana untuk sekedar beristirahat, tapi kenapa dia gak mengunjunginya?
Dengan sedih, Jenni mencoba menutup tirai kamarnya, namun tiba-tiba matanya terbelalak. Dirinya melihat mobil. Tentu dia gak akan seterkejut ini jika itu mobil biasa, tapi mobil ini berhenti didepan rumah Reyhan! Mungkinkah? Jenni segera berlari keluar kamar untuk melihat lebih lanjut. Namun yang terlihat turun dari mobil itu gak ada yang dikenalnya. Orang tua Reyhan juga bukan, dengan kecewa Jenni kembali kedalam rumah. Tak menyadari sepasang mata tengah memperhatikan dirinya. “Jenni, maafin aku,”
***
![]() |
| Semua Akan Kembali Keasalnya |
“Sayang, masak yang ini juga. Ini bagus buat kulit, terus yang ini juga,
ini juga,” Jenni memutar bola matanya demi melihat berbagai sayur yang
tengah disodorkan ibunya. Mana mungkin dirinya memakan berbagai sayur
sekali makan?
“Ah ibu… Kita masak sop saja, dan itu cuma butuh ini kol, kentang, dan wortel. Gak perlu bayam, atau kangkung, apalagi ini ketela buat apa? Satu satu dulu masaknya, ibu tunggu aja, biar Jenni yang masak,” ucap Jenni menyiapkan yang dia inginkan, ibunya hanya pasrah melihat anaknya. Namun tak juga dirinya bergeming, “Ibu mau buat semua sayur itu hari ini, jadi gak usah protes,” ucapan ibunya membuat Jenni menghela napas sambil memperhatikan ibunya bekerja.
“Ibu, siapa yang pindah kerumah sebelah?”
“Pindah? Gak ada yang pindah. Itu Reyhan yang datang, tapi orangtuanya katanya gak mau ikut,” jelas ibu Jenni, membuat Jenni terbelalak sekaligus gak percaya.
“Yang bener Bu?” tak sadar Jenni berteriak kegirangan, begitu sadar, dirinya segera menutup mulutnya, sebelum ibunya heran. Tangannya lincah meracik bumbu-bumbu, begitu pula dengan otaknya, lincah memikirkan cara dia bertemu Reyhan nantinya. Apakah Reyhan masih mengingatnya? Bagaimana tanggapan dia? Apakah dia sesenang dirinya sekarang ketika bertemu? Dengan tak sabar, Jenni segera menyelesaikan pekerjaannya guna bersiap-siap kerumah Reyhan. Senyum cerah tersungging dibibirnya.
***
“Hei Rey, emm gimana kabarnya? Lama ya gak ketemu,” Jenni tersenyum masam, kemudian segera menggelengkan kepalanya didepan cermin yang tengah memperlihatkan wajahnya yang tengah bahagia sekaligus gundah, “Ah, mana mungkin aku bilang gitu? Kayaknya sok akrab banget,” dengan menghela napas dirinya kembali memperagakan berbagai gaya yang akan dia pake ketika bertemu Reyhan nanti.
Sebelum dirinya berpikir untuk mengubah kata-kata untuk yang kesekian kali, dia membulatkan tekad untuk menemui Reyhan sekarang juga dengan cara senatural mungkin. Dengan langkah tegap bagai serdadu berangkat perang, Jenni membuka gerbang rumah Reyhan. Kemudian menoleh kesana kemari memperhatikan suasana rumah yang sepi. Satpam pun gak ada ditempatnya, dengan ragu Jenni memperhatikan mangkuk kolak ketela ditangannya. ‘masuk gak ya?’ batinnya ragu. Baru saja dirinya berbalik hendak pulang, sebuah sepeda motor hendak menabraknya. Hampir saja, Jenni mematung saking kagetnya, sedang kolak ditangannya jatuh, bukan karena tertabrak, namun karena dijatuhkan Jenni. Sedang sosok yang hampir menabraknya pun ikut terkejut, kemudian segera berlalu setelah mengucapkan “Bodoh”. Jenni hanya mematung ditempatnya.
“Tampannya…” ternyata, Jenni terkejut bukan cuma karena hampir tertabrak, tapi juga saking terpananya dengan pengendara motor barusan! Namun sedetik kemudian, wajahnya berubah cemberut “Gimana bisa dia ngatain aku bodoh? Dia yang gak liat ada orang disini! Dasar!” ucapnya sewot kemudian mengambil mangkuknya yang terjatuh tadi. Kemudian kembali terbelalak “Hah, jangan-jangan dia Reyhan? Ya ampuuun ganteng bangeet. Kasian banget sih jadi kasar gitu…” ucapnya gak jelas antara memuji dengan penyesalan.
***
“Gimana Pak Li? Dah pulang belum anaknya?” tanya Reyhan dari balik pintu dengan muka was-was. Sedang Pak Li, celingak celinguk memperhatikan dari jendela yang tertutup tirai. Kemudian mengacungkan jempolnya tanda Jenni telah pergi.
“Haaahh… Bodoh,” ucap Reyhan lebih menyerupai gumaman, lega, kemudian memerosotkan tubuhnya ke lantai. Pak Li yang khawatir, langsung memanggil satpam.
“Gak usah Pak Li, aku baik-baik saja. Kita kesini kan untuk refreshing, jadi jangan terlalu khawatir,”
“Anak itu, kalau anda ingin menemuinya kita bisa jadwalkan untuk itu,” ucap Pak Li, sedang Reyhan hanya menerawang langit-langit. Kemudian menggelengkan kepalanya lemah, kemudian tertunduk. Pak Li yang mengetahui suasana hati juga pemikiran tuannya, hanya terdiam. Dirinya pun tau sejarah antara Jenni dengan Reyhan, dan orang paling tau perkembangan keduanya selama mereka berjauhan. Maka dari itu, dirinya ikut sedih mengetahui sikap tuannya sekarang.
“Hah, Rey! Darimana saja kau?!” Reyhan maupun Pak Li segera menoleh, Reyhan langsung ketakutan melihat orang yang datang. Dion, kakak sepupunya langsung menyeret tangannya menaiki anak tangga menuju keatas.
“Kakak! Lepas,” tanpa mempedulikan permintaan adiknya, Dion terus menarik tangan Reyhan. Pak Li yang mengikuti dari belakang hanya pasrah ketika Dion mengomelinya, “sudah aku bilang, jangan biarkan anak ini keluar! Apa kerjaanmu Pak Li! Ngurus seperti itu gak becus!” ucap Dion yang segera mendorong Reyhan kekamarnya, kemudian menguncinya. Dirinya menulikan telinga mendengar teriakan Reyhan. Dengan menghela napas, Dion segera beranjak pergi.
“Kakak! Buka Kak!” dengan frustasi, Reyhan menggebrak pintu itu. Namun sekuat apapun dia mendobrak, pintu itu seolah gak bergeming. Tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut dahsyat, dunia seakan berputar. Reyhan mencoba memegang kepalanya, berusaha meredakan rasa sakit itu, tubuhnya jatuh berlutut, sebelum akhirnya pingsan. Pak Li yang ada dibalik pintu masih bisa mendengar suara kesakitan tuannya. Dengan tergesa-gesa dia segera memanggil Dion untuk segera membuka pintu itu.
***
Reyhan membuka matanya dan mendapati dirinya dirumah sakit dengan alat infuse ditangannya, dan alat bantu pernapasan dihidungnya. Dion serta orangtuanya ada disana, semuanya memandang khawatir kearahnya.
“Sayang…”
“Aku gak apa-apa ma… gak perlu khawatir,” ucap Reyhan sebelum ibunya sempat berbicara. Dia memandang Dion yang kini tengah berseragam putih dokter.
“Kak…”
“Gak usah bicara. Diam, dan jangan kabur kali ini. Aku sudah jadwalkan operasimu minggu ini. Kita adakan pemeriksaan rutin minggu ini,” ucap Dion menghakimi. Sedang Reyhan hanya memandangnya memelas, Dion hanya memalingkan muka sebelum keluar ruangan. Diikuti orangtua Dion. Tak terasa air mata menetes dipipi Reyhan, kemudian dia memandang Pak Li yang memandangnya tak tega dengan pandangan nanar.
“Pak Li, kalo aku ketemu dia sekarang, apa dia akan menyesal telah bertemu aku?”
“Apa? oh… Haha… Apa maksud anda? Tentu saja dia tak bakal menyesal. Anda orang yang sangat tampan, juga punya masa depan yang cerah. Apa lagi yang perlu diragukan?” ucap Pak Li mencoba tertawa dan membesarkan hati tuannya. Reyhan segera bangun dan mengusap air matanya yang menetes sekali. Kemudian membuka alat bantu pernapasan juga alat infuse, membuat Pak Li kebingungan. Namun Reyhan bertekad akan kabur ‘lagi’ kali ini.
***
Jenni kembali mengintip jendela didepannya, namun tetap saja kosong. Dengan sebal, dia hendak kembali kerumahnya. Ya, dirinya sekarang tengah memandang jendela rumah Reyhan. Baru saja beberapa langkah, dirinya dikejutkan kedatangan seseorang yang turun dari taksi. Cowok yang sama yang dilihatnya kemarin malam.
“Sedang apa kamu disana?” tanya cowok itu, dengan pandangan sulit ditebak.
“Eh, aku… o ini, kebetulan tadi aku lewat sini. Jadi mampir, sory deh kalo ganggu,” ucap Jenni dengan perasaan malu, langsung berlari kearah rumahnya, begitu melewati cowok itu, hawa dingin langsung menyelimutinya. Ternyata cowok itu memegang tangannya, dan dia gak tau yang menyebabkan hawa dingin itu apa. Dengan pandangan bertanya, Jenni berbalik memandang cowok itu.
“Lihat, disini dikelilingi pagar, mana bisa kamu bilang kebetulan lewat sini? Bilang aja mau ketemu aku,” ucap Reyhan dengan tingkat PD 100%, Jenni menanggapinya dengan tak percaya kemudian tertawa.
“Hah. Haha… aku bahkan gak kenal kamu, mana bisa kamu bilang gitu?” Jenni kembali tertawa.
“Aku Reyhan, gimana?” Jenni yang tertawa langsung terbatuk seketika mendengar ucapan Reyhan. Kini gantian Reyhan yang tertawa melihat ekspresi Jenni yang menurutnya sangat lucu.
***
“Kenapa kamu kembali?”
“Kenapa? Apa aku gak bisa pulang kerumah sendiri?” Reyhan balik bertanya sambil memandang danau didepannya. Dulu, mereka sering menghabiskan waktu disini sepanjang hari untuk bermain dengan teman-teman mereka. masing-masing mengingat masa-masa dulu mereka masih kecil.
“Aku kan gak bilang kamu gak boleh pulang. Cuma heran aja, biasanya orang yang pergi terlalu lama gak bakal kembali,”
“Suatu saat aku pasti pergi lagi,”
“Kenapa?” tanya Jenni sedih mendengar pernyataan Reyhan, dirinya bahkan telah menunggu Reyhan selama ini, walaupun setiap hari dirinya berusaha untuk melupakannya. Mana bisa dia bilang seperti itu seenaknya? Reyhan menatap Jenni yang cemberut, membuatnya tersenyum. Bibir yang sama 15 tahun lalu.
“Apa kamu menyesal bertemu aku, kalau nanti aku pergi lagi?” tanya Reyhan membuat Jenni memandang kearahnya.
“Emm… Gimana ya?? Kalau orangnya ganteng kayak gini sih, kayaknya bakal nyesel kali ya,” ucap Jenni dengan nada bercanda, membuat Reyhan tertawa, juga bangga!
“Ya ya… aku memang ganteng sih, jadi susah deh,” balas Reyhan yang membuat Jenni menyesal telah memujinya. Kemudian mereka sama-sama tertawa. Tak terasa matahari hampir tenggelam, menciptakan bayangan indah diatas danau itu. Jenni menatap takjub pemandangan itu, dirinya gak akan pernah bosan memandangnya walau hampir tiap hari dirinya kesana. Reyhan menatap wajah Jenni dari samping, siluet yang cantik. Kemudian dirinya memandang matahari yang kini hampir semuanya terbenam.
“Semua bakal kembali keasalnya,” gumam Reyhan, tak bermaksud bicara dengan siapapun. Namun Jenni mengiyakannya.
“Hmm… pantatku sakit, tanahnya kasar nih. Pulang yuk?” ajak Jenni menatap Reyhan dikegelapan. Dirinya gak melihat wajah Reyhan yang penuh kesedihan.
***
“Aku harus gimana biar kamu nurut, hah!” Dion kembali memarahi adiknya yang hanya tertunduk.
“Kakak bilang kesempatanku hidup cuma beberapa persen. Gimana kalo aku…” belum sempat Reyhan meneruskan kata-katanya, Dion telah membekap mulutnya.
“Aku bilang diam. Aku pasti usahakan yang terbaik. Jadi aku minta kamu operasi minggu ini,”
“Aku gak mau, biar kayak gini. Aku masih bisa hidup,”
“Kamu…” Dion geram menghadapi sikap adiknya itu, kemudian kembali menarik tangan Reyhan. Reyhan yang tau maksud kakaknya, mencoba meronta. Namun kakak sepupunya jauh lebih kuat darinya. Selalu seperti itu, kakaknya akan terus mengurungnya sampai dia mau menurut. Kali inipun, Reyhan berusaha mencari cara untuk melepaskan diri. Begitu sampai didepan kamar, Reyhan mencoba menendang Dion. Dion yang terkejut terpelanting kebelakang, begitu melihat Reyhan kabur, Dion segera bangkit dan mengejar Reyhan. Namun adiknya telah jauh, dan dia gak tau kemana adiknya hendak pergi. Pak Li yang melihat dari arah dapur hanya memalingkan muka. Kemudian dilihatnya Dion keluar entah kemana, mungkin khawatir kalau-kalau adiknya kambuh lagi.
***
Jenni tersenyum-senyum semenjak makan malam, membuat orangtuanya heran. Dan kini didalam kamar, dirinya memandang langit-langit, namun pikirannya entah pergi kemana. Setiap kali sebuah bayangan Reyhan muncul, saat itu pula dirinya akan tersenyum. Kemudian dipandangnya jendela, terlihat rumah Reyhan yang berwarna hijau, balkon kamar Reyhan yang terang. Dia membayangkan Reyhan yang tengah menatapnya melalui balkon itu, membuatnya senang. Wajah yang sangat tampan itu tengah tersenyum. Sayup-sayup, Jenni melihat bayangan itu menjadi nyata.
“Reyhan!” Jenni terbelalak mendapati jika bukan bayangan Reyhan yang dia lihat, namun Reyhan! Benar-benar Reyhan dijendelanya!
“Ssssttt,” Reyhan memberi isyarat Jenni untuk diam dengan telunjuknya. Kemudian dia masuk kekamar Jenni yang bernuansa pink. Jenni yang penasaran bagaimana cara Reyhan masuk, segera mengintip ke jendela. Dan disana ada tangga yang biasa digunakan jika akan mengecat dinding.
“Ngapain pake tangga? Kan bisa lewat pintu?” tanya Jenni.
“Ah, gak ada tantangannya,” jawab Reyhan enteng, padahal dirinya gak ingin ditemukan kakaknya, mungkin saja kakaknya menanyakan ke orangtua Jenni, apakah dia disana sekarang.
“Apa ini sopan, seorang cowok masuk kekamar cewek?”
“Kamu gak suka?” tanya Reyhan sambil lalu, kemudian memandang interior didalam kamar Jenni yang ditata apik. Jenni hanya menjawabnya dengan gelengan kepala gak percaya.
“Kamarmu cantik banget,” puji Reyhan sambil duduk diranjang Jenni.
“Aku pengen jadi penata interior professional. Paling gak, aku harus bisa menata kamar juga rumahku sendiri dulu kan?” jawab Jenni tersenyum melihat Reyhan gak henti-henti memandang kamarnya.
“Hmm… Bagus-bagus, jadi kalo aku pulang nanti aku gak bakal bosan ya,” ucap Reyhan mengelus sprei Jenni yang berwarna pink muda.
“Maksudnya?” tanya Jenni gak ngerti yang dimaksud Reyhan.
“Kalo kita nikah nanti kan kamu harus membuatku betah dirumah,” jelas Reyhan enteng, membuat Jenni terkejut, kemudian tertawa. Mana ada orang sePD dirinya! Namun Jenni tak menyanggah perkataan Reyhan itu. Dirinya pun mengharapkan hal yang sama.
“Apa jawabanmu?”
“Kamu gak tanya apa-apa, aku harus jawab apa?” tanya Jenni heran mendapat pertanyaan aneh dari Reyhan.
“Pertanyaanku masih sama, seperti 15 tahun lalu,”
“Apa?” tanya Jenni pura-pura tak tahu, itu berhasil membuat Reyhan cemberut.
“Mana bisa kamu melupakan hal yang begitu penting?” Jenni menahan tawa mendengar Reyhan yang merajuk. “Aku bahkan selalu mengirimimu kado valentine, kado ulang tahun, mana bisa aku dilupakan begitu saja?” Jenni terkesiap, dirinya memang selalu mendapat kado-kado itu, namun tanpa nama. Baru diketahui sekarang siapa yang mengirim semua itu. Karena sibuk memikirkan semua itu, Jenni sampai tak menyadari Reyhan yang telah menuruni tangga.
“Rey,”
“Temui aku kalo kamu udah ingat pertanyaanku,” jawab Reyhan tanpa menghentikan acara turun tangganya.
***
“Aku kan belum menemuimu? Kenapa kamu mengajakku keluar? Udah gak marah?” tanya Jenni selama perjalanan kedanau. Reyhan hanya tersenyum, kemudian menuding sesuatu ditepi danau, diantara 2 pohon kelapa.
“Wow! Rey, kamu yang buat ini?” Jenni surprise mendapati sebuah ayunan disana.
“Tentu saja aku yang buat,” jawab Reyhan berbohong, karena yang mempersiapkan itu Pak Li. “Aku tau kamu gak nyaman duduk ditanah, makanya aku buatin ayunan buat kita,” jelas Reyhan. Jenni segera mencoba ayunan itu, walaupun sederhana, namun dibuat dengan kuat. Jenni segera mencari sulur berbunga disekitar sana, dan memasangnya dikedua sisi ayunan. Membuatnya semakin cantik. Reyhan mengacungkan jempolnya atas hasil karya Jenni.
“Duduk sini Rey, kita tunggu matahari sampe tenggelam lagi,” ucap Jenni, Reyhan segera duduk disampingnya, dan menggenggam tangan Jenni.
“Kenapa tanganmu dingin banget Rey?”
“Iya, aku kedinginan,” jawab Reyhan tersenyum, Jenni semakin menggenggam erat tangannya, kemudian bersandar dipundak Reyhan. Reyhan mengeratkan pegangannya pada bahu Jenni, seakan tak ingin melepaskannya.
Kenapa aku bodoh sekali selalu mengingatmu? Jika kamu bersedih nantinya karena kehadiranku, aku orang pertama yang gak bakal bisa maafin diriku sendiri.
“Besok aku jawab pertanyaanmu ya, tunggu aku disini,” Jenni tersenyum membuat Reyhan penuh harapan.
“Apa itu jawaban yang bagus?”
“Tunggu aja besok,” Reyhan gemas dengan sikap Jenni yang membuatnya penasaran.
“REYHAN!!” suara yang menggemparkan dunia mengejutkan dua insan yang tengah berkasih itu hingga Jenni hampir terjatuh karena Reyhan tiba-tiba turun dari ayunan dan mundur ketakutan.
“Kakak,”
***
“Kak, lepas kak! Malu ada Jenni kak!” seru Reyhan sepanjang jalan tangannya diseret Dion. Sedang Jenni yang tak tau harus gimana hanya cemas sambil mengikuti mereka sampai kamar Reyhan. Dia mencoba menjelaskan, namun sepertinya Dion tak mau dipengaruhi kali ini. Sampai kamar Reyhan, Dion gak cuma mendorong Reyhan masuk, tapi Dion masih menyeret Reyhan sampai kamar tidur. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang membuat Reyhan ataupun Jenni terbelalak.
“Kakak, jangan kak,” seruan Reyhan tak menyurutkan tindakan Dion, dia segera menarik tangan kiri Dion dan memborgolnya dengan ranjang. Tangan Reyhan yang satunya tak mampu menahan Dion. Jenni memandang semua itu dengan pandangan miris.
“Kamu harus operasi besok. Kondisimu harus stabil. Jangan kemana-mana,” Dion memberi ancaman kosong, karena Reyhan jelas tak bisa kemana-mana lagi.
***
“Reyhan kena kanker otak,” ucapan Dion diluar kamar Reyhan mengejutkan Jenni, melihat keterkejutan Jenni, Dion menambahkan, “tapi masih bisa disembuhkan asal segera operasi,” tambah Dion membuat Jenni sedikit tenang.
“Sejak kapan?”
“Aku juga gak tahu, yang pasti baru setahun ini gejalanya muncul. Begitu di cityscan, ternyata ada benjolan diotaknya. Dan untuk operasi itu sangat riskan, tapi melihat kondisinya yang selalu kesakitan, aku gak tega, dan keluarga setuju untuk mengoperasinya,”
“apakah akan berhasil?”
“Aku pun gak bisa memastikan. Sebenarnya kemungkinan untuk hidup lebih kecil, namun yang berhasil selamat juga banyak, aku meyakini operasinya akan sukses, mengingat benjolan itu belum terlalu besar,” jelas Dion, sesekali terdengar teriakan Reyhan dari dalam kamar.
“Yang kakak lakuin sekarang apa gak justru menyakiti Reyhan?”
“Ini demi kebaikannya, jadi kamu gak perlu khawatir. Dan kamu tau? Dia meyakini dirinya akan mati, jadi bersikeras kemari untuk menemui seseorang. Dan aku yakin orang itu kamu,” ucap Dion tersenyum, Jenni pun geli mengingat Reyhan dengan segala polahnya.
“Ya… pasti sulit juga harus jauh dari orangtua,”
“Begitulah, orangtuanya sendiri gak tega melihatnya selalu kesakitan. Mereka memaksaku untuk menyembuhkannya, kamu tau kan gimana sayangnya mereka?” Jenni mengangguk membenarkan ucapan Dion.
“KAKAK! AKU AKAN MEMBUNUHMU NANTI!! LEPASIN AKU SEKARANG JUGA!!” suara Reyhan terdengar sampai kedepan pintu. Jenni memandang pintu itu seolah bisa melihat Reyhan.
“Haha, mana mungkin aku melepaskannya kalo dia akan membunuhku nanti?” canda Dion, membuat Jenni ikut tersenyum, “Jangan khawatir, pulanglah,” Jenni pun mengangguk setelah melihat pintu kamar Reyhan sekali lagi.
***
Hari itu, Jenni beserta keluarga Reyhan ada dirumah sakit menemani Reyhan dari pemeriksaan awal hingga keruang operasi. Semuanya berdoa dengan khusyuk meminta keselamatan bagi Reyhan. Jenni menunggu dikoridor bersama Pak Li yang juga sangat cemas. Bagaimanapun Reyhan sudah seperti anaknya sendiri.
“Apa anda mencintainya?” pertanyaan Pak Li yang tiba-tiba mengejutkan Jenni, namun kemudian Jenni mengerti yang dimaksud Pak Li.
“Ya, aku sangat mencintainya. Entah kenapa, hanya keyakinanku yang membuatku belum bisa membuka hati untuk orang lain. Mungkin saja dia gak akan kembali, namun aku meyakini cintanya tulus waktu itu, hingga membuatku selalu teringat sampai sekarang. Bahkan sampai 15 tahun berlalu,” Jenni tertunduk sambil mengenang masa lalunya.
“Begitupula dengannya, dia laki-laki yang sangat pintar. Dan selalu ada tempat untuk sebuah nama, walaupun saya kira ini seperti cerita klise, namun nyatanya benar-benar ada laki-laki seperti Reyhan. Dia selalu membicarakan anda, selalu meminta saya mengirimi anda kado, dan selalu meminta pendapat saya tentang reaksi anda,” ucap Pak Li sambil tersenyum mengingat Reyhan yang selalu meminta foto Jenni.
“Haha, apa Pak Li juga memfotoku diam-diam?” Pak Li ikut tertawa, namun itu memang kenyataannya.
“Kenapa… kenapa dia gak mau menemuiku sebelumnya?” tanya Jenni tiba-tiba menjadi suram.
“Sudah saya bilang Reyhan laki-laki yang pintar, dia mencoba menumbuhkan rasa cinta sedikit demi sedikit dari anda, dengan begitu sekali dia muncul, anda akan mengenalinya. Sebenarnya, setahun yang lalu, dia ingin menemui anda, sekaligus secepatnya melamar anda. Namun ternyata dia didiagnosis terkena kanker otak, itu membuatnya sangat terpukul, dan dia menyuruh saya untuk tidak mengingatkan lagi tentang anda,” Pak Li bercerita dengan suara lirih sambil membayangkan wajah Reyhan tatkala itu, wajah yang sangat putus asa.
“Walaupun dia pintar, tapi dia ternyata juga bodoh ya,” ungkap Jenni terkekeh,”baru sadar kan dia gak bisa melupakan aku begitu saja?” Jenni melanjutkan, “tapi kenapa kado-kadonya selalu tanpa nama?”
“Yang benar? Saya selalu memberi nama untuk setiap kado itu,”
“Dimananya?”
“Ya… memang tersembunyi, tapi saya selalu memberi nama. Kalo anda tak tahu yang memberi kado itu, berarti misi saya untuk membuat anda jatuh cinta gagal?” Pak Li mengerjapkan matanya dan terbelalak. Jenni yang melihat itu menenangkannya sebelum kemudian tertawa.
“Sudahlah Pak Li, gak apa-apa. Nyatanya aku jatuh cinta walaupun tanpa kado itu,”
***
“Kenapa kamu gak pulang?” Jenni terkejut mendapati Dion telah ada disebelahnya.
“Reyhan… Pasti dia akan bertahan kan?” tanya Jenni penuh harap, walaupun operasi telah selesai, namun Reyhan masih belum sadar. Dion hanya membalasnya dengan anggukan lemah.
“Dia… Aku yakin walaupun dia nakal, dia pasti gak akan membuat semuanya khawatir. Aku sudah berusaha semampuku. Aku sangat menyayanginya, seumpama…” Dion tertunduk tak mampu meneruskan kata-katanya, tampak raut kesedihan juga kecemasan terpancar dari matanya. Jenni pun tak memaksanya berbicara, namun Dion meneruskan, “Aku orang paling bersalah seandainya ada apa-apa dengannya. Aku selalu memaksanya melakukan sesuatu yang gak disukainya, dan jika dia menolak, aku akan mengurungnya… mungkin… bagiku ini demi kebaikannya, tapi entahlah… apa dia bahagia, aku gak pernah memikirkannya,”
“Bukankah kakak bilang semua akan baik-baik saja?”
“Haha… Ya, pasti, semuanya akan baik-baik saja. Dan aku berjanji, setelah ini aku gak bakal memaksanya lagi. Kamu sebagai saksinya ya,” ucap Dion bersungguh-sungguh, membuat Jenni tersenyum kemudian mengangguk.
***
Semua menunggu Reyhan siuman diruangannya. Pengaruh obat bius masih menggelayuti matanya, dengan harap-harap cemas Jenni yang sedari kemarin menunggu hanya bisa berdoa. Ditatapnya wajah Reyhan yang berbalut alat bantu pernapasan, juga kepalanya yang telah botak karena operasi kemarin, seakan wajah itu tanpa ekspresi dan seperti enggan bangun. Tiba-tiba sebuah gerakan membuat semua yang ada diruangan itu siaga. Dan sangat perlahan, mata Reyhan terbuka, dengan terbukanya mata Reyhan, saat itu pula terdengar jerit syukur seisi ruangan. Jennipun hampir saja bersorak kegirangan.
“Rey…” panggil semua yang ada disana, Reyhan mencoba menjawab namun suaranya masih sangat lemah. Dion mendekatkan telinganya kemulut Reyhan.
“Katanya jangan keras-keras, suara kalian membuatnya pusing,” ucap Dion tertawa memberitahukan pesan Reyhan, semuanya gak ada yang bersuara, namun senyum kebahagiaan tetap tersungging dibibir mereka.
***
Seminggu kemudian.
“Rey, kamu tau… kakakmu menangis berhari-hari karena menyesal sering mengurungmu dikamar. Lucu ya… Kamu seharusnya tau betapa sayangnya dia padamu,” ucap Jenni sambil berjalan melewati rumah Reyhan. Sesekali diliriknya Reyhan yang berjalan disampingnya dengan tersenyum. Kali ini pun mereka akan ke danau. Selama perjalanan terdengar canda tawa mereka. Sebentar kemudian mereka telah sampai didanau. Reyhan dengan senyumannya berjalan mendahului melewati ayunan mereka yang indah dengan sulur yang baru. Kemudian dia berbalik dan tersenyum kearah Jenni, Jennipun berlinang air mata memandangnya. Dengan perlahan namun pasti, Reyhan semakin jauh menuju tepi danau. Jenni hanya memandangnya sambil duduk diatas ayunan. Makin lama, makin jauh Reyhan berjalan. Matahari hampir tenggelam, saat itu pula sosok Reyhan menghilang.
“Reyhan?” Jenni terkejut segera bangkit, namun sesaat kemudian dia menangis.
Tiga hari telah berlalu, kenanganmu akan aku bawa selalu. Kamu tau? Walaupun kamu belum mendengar jawabanku, aku jawab pertanyaanmu dulu dengan pasti, kalau aku mau jadi istrimu. Selamanya. Tapi kenapa kamu gak bisa nunggu lebih lama lagi? Dan memilih meninggalkanku sekarang?
Jenni menatap danau didepannya dengan pandangan nanar. Seolah wajah Reyhan masih terlukis disana. Tiga hari Reyhan telah meninggalkan semuanya, termasuk dirinya. Operasi yang berhasil tak mampu membawanya untuk tetap hidup, kondisinya semakin memburuk hingga ajal harus membawanya.
Angin semilir menandakan sebentar lagi matahari akan menghilang.
“Ya Rey, semuanya akan kembali ke asalnya. Dan kamu bodoh jika mengira aku akan menyesal telah bertemu denganmu, karena justru sekarang aku menangis… karena bahagia… pernah mengenal orang sepertimu…” setetes air mata kembali mengalir dipipi Jenni yang telah membentuk aliran sungai. Matanya yang sembab tetap menunggu matahari untuk terbenam, tangannya yang indah tetap menyentuh untaian sulur di ayunan milik mereka. satu yang membedakan, seseorang yang seharusnya bisa digenggamnya disamping ayunan itu yang telah membiarkan tempat itu kosong untuk selamanya.
THE END
“Ah ibu… Kita masak sop saja, dan itu cuma butuh ini kol, kentang, dan wortel. Gak perlu bayam, atau kangkung, apalagi ini ketela buat apa? Satu satu dulu masaknya, ibu tunggu aja, biar Jenni yang masak,” ucap Jenni menyiapkan yang dia inginkan, ibunya hanya pasrah melihat anaknya. Namun tak juga dirinya bergeming, “Ibu mau buat semua sayur itu hari ini, jadi gak usah protes,” ucapan ibunya membuat Jenni menghela napas sambil memperhatikan ibunya bekerja.
“Ibu, siapa yang pindah kerumah sebelah?”
“Pindah? Gak ada yang pindah. Itu Reyhan yang datang, tapi orangtuanya katanya gak mau ikut,” jelas ibu Jenni, membuat Jenni terbelalak sekaligus gak percaya.
“Yang bener Bu?” tak sadar Jenni berteriak kegirangan, begitu sadar, dirinya segera menutup mulutnya, sebelum ibunya heran. Tangannya lincah meracik bumbu-bumbu, begitu pula dengan otaknya, lincah memikirkan cara dia bertemu Reyhan nantinya. Apakah Reyhan masih mengingatnya? Bagaimana tanggapan dia? Apakah dia sesenang dirinya sekarang ketika bertemu? Dengan tak sabar, Jenni segera menyelesaikan pekerjaannya guna bersiap-siap kerumah Reyhan. Senyum cerah tersungging dibibirnya.
***
“Hei Rey, emm gimana kabarnya? Lama ya gak ketemu,” Jenni tersenyum masam, kemudian segera menggelengkan kepalanya didepan cermin yang tengah memperlihatkan wajahnya yang tengah bahagia sekaligus gundah, “Ah, mana mungkin aku bilang gitu? Kayaknya sok akrab banget,” dengan menghela napas dirinya kembali memperagakan berbagai gaya yang akan dia pake ketika bertemu Reyhan nanti.
Sebelum dirinya berpikir untuk mengubah kata-kata untuk yang kesekian kali, dia membulatkan tekad untuk menemui Reyhan sekarang juga dengan cara senatural mungkin. Dengan langkah tegap bagai serdadu berangkat perang, Jenni membuka gerbang rumah Reyhan. Kemudian menoleh kesana kemari memperhatikan suasana rumah yang sepi. Satpam pun gak ada ditempatnya, dengan ragu Jenni memperhatikan mangkuk kolak ketela ditangannya. ‘masuk gak ya?’ batinnya ragu. Baru saja dirinya berbalik hendak pulang, sebuah sepeda motor hendak menabraknya. Hampir saja, Jenni mematung saking kagetnya, sedang kolak ditangannya jatuh, bukan karena tertabrak, namun karena dijatuhkan Jenni. Sedang sosok yang hampir menabraknya pun ikut terkejut, kemudian segera berlalu setelah mengucapkan “Bodoh”. Jenni hanya mematung ditempatnya.
“Tampannya…” ternyata, Jenni terkejut bukan cuma karena hampir tertabrak, tapi juga saking terpananya dengan pengendara motor barusan! Namun sedetik kemudian, wajahnya berubah cemberut “Gimana bisa dia ngatain aku bodoh? Dia yang gak liat ada orang disini! Dasar!” ucapnya sewot kemudian mengambil mangkuknya yang terjatuh tadi. Kemudian kembali terbelalak “Hah, jangan-jangan dia Reyhan? Ya ampuuun ganteng bangeet. Kasian banget sih jadi kasar gitu…” ucapnya gak jelas antara memuji dengan penyesalan.
***
“Gimana Pak Li? Dah pulang belum anaknya?” tanya Reyhan dari balik pintu dengan muka was-was. Sedang Pak Li, celingak celinguk memperhatikan dari jendela yang tertutup tirai. Kemudian mengacungkan jempolnya tanda Jenni telah pergi.
“Haaahh… Bodoh,” ucap Reyhan lebih menyerupai gumaman, lega, kemudian memerosotkan tubuhnya ke lantai. Pak Li yang khawatir, langsung memanggil satpam.
“Gak usah Pak Li, aku baik-baik saja. Kita kesini kan untuk refreshing, jadi jangan terlalu khawatir,”
“Anak itu, kalau anda ingin menemuinya kita bisa jadwalkan untuk itu,” ucap Pak Li, sedang Reyhan hanya menerawang langit-langit. Kemudian menggelengkan kepalanya lemah, kemudian tertunduk. Pak Li yang mengetahui suasana hati juga pemikiran tuannya, hanya terdiam. Dirinya pun tau sejarah antara Jenni dengan Reyhan, dan orang paling tau perkembangan keduanya selama mereka berjauhan. Maka dari itu, dirinya ikut sedih mengetahui sikap tuannya sekarang.
“Hah, Rey! Darimana saja kau?!” Reyhan maupun Pak Li segera menoleh, Reyhan langsung ketakutan melihat orang yang datang. Dion, kakak sepupunya langsung menyeret tangannya menaiki anak tangga menuju keatas.
“Kakak! Lepas,” tanpa mempedulikan permintaan adiknya, Dion terus menarik tangan Reyhan. Pak Li yang mengikuti dari belakang hanya pasrah ketika Dion mengomelinya, “sudah aku bilang, jangan biarkan anak ini keluar! Apa kerjaanmu Pak Li! Ngurus seperti itu gak becus!” ucap Dion yang segera mendorong Reyhan kekamarnya, kemudian menguncinya. Dirinya menulikan telinga mendengar teriakan Reyhan. Dengan menghela napas, Dion segera beranjak pergi.
“Kakak! Buka Kak!” dengan frustasi, Reyhan menggebrak pintu itu. Namun sekuat apapun dia mendobrak, pintu itu seolah gak bergeming. Tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut dahsyat, dunia seakan berputar. Reyhan mencoba memegang kepalanya, berusaha meredakan rasa sakit itu, tubuhnya jatuh berlutut, sebelum akhirnya pingsan. Pak Li yang ada dibalik pintu masih bisa mendengar suara kesakitan tuannya. Dengan tergesa-gesa dia segera memanggil Dion untuk segera membuka pintu itu.
***
Reyhan membuka matanya dan mendapati dirinya dirumah sakit dengan alat infuse ditangannya, dan alat bantu pernapasan dihidungnya. Dion serta orangtuanya ada disana, semuanya memandang khawatir kearahnya.
“Sayang…”
“Aku gak apa-apa ma… gak perlu khawatir,” ucap Reyhan sebelum ibunya sempat berbicara. Dia memandang Dion yang kini tengah berseragam putih dokter.
“Kak…”
“Gak usah bicara. Diam, dan jangan kabur kali ini. Aku sudah jadwalkan operasimu minggu ini. Kita adakan pemeriksaan rutin minggu ini,” ucap Dion menghakimi. Sedang Reyhan hanya memandangnya memelas, Dion hanya memalingkan muka sebelum keluar ruangan. Diikuti orangtua Dion. Tak terasa air mata menetes dipipi Reyhan, kemudian dia memandang Pak Li yang memandangnya tak tega dengan pandangan nanar.
“Pak Li, kalo aku ketemu dia sekarang, apa dia akan menyesal telah bertemu aku?”
“Apa? oh… Haha… Apa maksud anda? Tentu saja dia tak bakal menyesal. Anda orang yang sangat tampan, juga punya masa depan yang cerah. Apa lagi yang perlu diragukan?” ucap Pak Li mencoba tertawa dan membesarkan hati tuannya. Reyhan segera bangun dan mengusap air matanya yang menetes sekali. Kemudian membuka alat bantu pernapasan juga alat infuse, membuat Pak Li kebingungan. Namun Reyhan bertekad akan kabur ‘lagi’ kali ini.
***
Jenni kembali mengintip jendela didepannya, namun tetap saja kosong. Dengan sebal, dia hendak kembali kerumahnya. Ya, dirinya sekarang tengah memandang jendela rumah Reyhan. Baru saja beberapa langkah, dirinya dikejutkan kedatangan seseorang yang turun dari taksi. Cowok yang sama yang dilihatnya kemarin malam.
“Sedang apa kamu disana?” tanya cowok itu, dengan pandangan sulit ditebak.
“Eh, aku… o ini, kebetulan tadi aku lewat sini. Jadi mampir, sory deh kalo ganggu,” ucap Jenni dengan perasaan malu, langsung berlari kearah rumahnya, begitu melewati cowok itu, hawa dingin langsung menyelimutinya. Ternyata cowok itu memegang tangannya, dan dia gak tau yang menyebabkan hawa dingin itu apa. Dengan pandangan bertanya, Jenni berbalik memandang cowok itu.
“Lihat, disini dikelilingi pagar, mana bisa kamu bilang kebetulan lewat sini? Bilang aja mau ketemu aku,” ucap Reyhan dengan tingkat PD 100%, Jenni menanggapinya dengan tak percaya kemudian tertawa.
“Hah. Haha… aku bahkan gak kenal kamu, mana bisa kamu bilang gitu?” Jenni kembali tertawa.
“Aku Reyhan, gimana?” Jenni yang tertawa langsung terbatuk seketika mendengar ucapan Reyhan. Kini gantian Reyhan yang tertawa melihat ekspresi Jenni yang menurutnya sangat lucu.
***
“Kenapa kamu kembali?”
“Kenapa? Apa aku gak bisa pulang kerumah sendiri?” Reyhan balik bertanya sambil memandang danau didepannya. Dulu, mereka sering menghabiskan waktu disini sepanjang hari untuk bermain dengan teman-teman mereka. masing-masing mengingat masa-masa dulu mereka masih kecil.
“Aku kan gak bilang kamu gak boleh pulang. Cuma heran aja, biasanya orang yang pergi terlalu lama gak bakal kembali,”
“Suatu saat aku pasti pergi lagi,”
“Kenapa?” tanya Jenni sedih mendengar pernyataan Reyhan, dirinya bahkan telah menunggu Reyhan selama ini, walaupun setiap hari dirinya berusaha untuk melupakannya. Mana bisa dia bilang seperti itu seenaknya? Reyhan menatap Jenni yang cemberut, membuatnya tersenyum. Bibir yang sama 15 tahun lalu.
“Apa kamu menyesal bertemu aku, kalau nanti aku pergi lagi?” tanya Reyhan membuat Jenni memandang kearahnya.
“Emm… Gimana ya?? Kalau orangnya ganteng kayak gini sih, kayaknya bakal nyesel kali ya,” ucap Jenni dengan nada bercanda, membuat Reyhan tertawa, juga bangga!
“Ya ya… aku memang ganteng sih, jadi susah deh,” balas Reyhan yang membuat Jenni menyesal telah memujinya. Kemudian mereka sama-sama tertawa. Tak terasa matahari hampir tenggelam, menciptakan bayangan indah diatas danau itu. Jenni menatap takjub pemandangan itu, dirinya gak akan pernah bosan memandangnya walau hampir tiap hari dirinya kesana. Reyhan menatap wajah Jenni dari samping, siluet yang cantik. Kemudian dirinya memandang matahari yang kini hampir semuanya terbenam.
“Semua bakal kembali keasalnya,” gumam Reyhan, tak bermaksud bicara dengan siapapun. Namun Jenni mengiyakannya.
“Hmm… pantatku sakit, tanahnya kasar nih. Pulang yuk?” ajak Jenni menatap Reyhan dikegelapan. Dirinya gak melihat wajah Reyhan yang penuh kesedihan.
***
“Aku harus gimana biar kamu nurut, hah!” Dion kembali memarahi adiknya yang hanya tertunduk.
“Kakak bilang kesempatanku hidup cuma beberapa persen. Gimana kalo aku…” belum sempat Reyhan meneruskan kata-katanya, Dion telah membekap mulutnya.
“Aku bilang diam. Aku pasti usahakan yang terbaik. Jadi aku minta kamu operasi minggu ini,”
“Aku gak mau, biar kayak gini. Aku masih bisa hidup,”
“Kamu…” Dion geram menghadapi sikap adiknya itu, kemudian kembali menarik tangan Reyhan. Reyhan yang tau maksud kakaknya, mencoba meronta. Namun kakak sepupunya jauh lebih kuat darinya. Selalu seperti itu, kakaknya akan terus mengurungnya sampai dia mau menurut. Kali inipun, Reyhan berusaha mencari cara untuk melepaskan diri. Begitu sampai didepan kamar, Reyhan mencoba menendang Dion. Dion yang terkejut terpelanting kebelakang, begitu melihat Reyhan kabur, Dion segera bangkit dan mengejar Reyhan. Namun adiknya telah jauh, dan dia gak tau kemana adiknya hendak pergi. Pak Li yang melihat dari arah dapur hanya memalingkan muka. Kemudian dilihatnya Dion keluar entah kemana, mungkin khawatir kalau-kalau adiknya kambuh lagi.
***
Jenni tersenyum-senyum semenjak makan malam, membuat orangtuanya heran. Dan kini didalam kamar, dirinya memandang langit-langit, namun pikirannya entah pergi kemana. Setiap kali sebuah bayangan Reyhan muncul, saat itu pula dirinya akan tersenyum. Kemudian dipandangnya jendela, terlihat rumah Reyhan yang berwarna hijau, balkon kamar Reyhan yang terang. Dia membayangkan Reyhan yang tengah menatapnya melalui balkon itu, membuatnya senang. Wajah yang sangat tampan itu tengah tersenyum. Sayup-sayup, Jenni melihat bayangan itu menjadi nyata.
“Reyhan!” Jenni terbelalak mendapati jika bukan bayangan Reyhan yang dia lihat, namun Reyhan! Benar-benar Reyhan dijendelanya!
“Ssssttt,” Reyhan memberi isyarat Jenni untuk diam dengan telunjuknya. Kemudian dia masuk kekamar Jenni yang bernuansa pink. Jenni yang penasaran bagaimana cara Reyhan masuk, segera mengintip ke jendela. Dan disana ada tangga yang biasa digunakan jika akan mengecat dinding.
“Ngapain pake tangga? Kan bisa lewat pintu?” tanya Jenni.
“Ah, gak ada tantangannya,” jawab Reyhan enteng, padahal dirinya gak ingin ditemukan kakaknya, mungkin saja kakaknya menanyakan ke orangtua Jenni, apakah dia disana sekarang.
“Apa ini sopan, seorang cowok masuk kekamar cewek?”
“Kamu gak suka?” tanya Reyhan sambil lalu, kemudian memandang interior didalam kamar Jenni yang ditata apik. Jenni hanya menjawabnya dengan gelengan kepala gak percaya.
“Kamarmu cantik banget,” puji Reyhan sambil duduk diranjang Jenni.
“Aku pengen jadi penata interior professional. Paling gak, aku harus bisa menata kamar juga rumahku sendiri dulu kan?” jawab Jenni tersenyum melihat Reyhan gak henti-henti memandang kamarnya.
“Hmm… Bagus-bagus, jadi kalo aku pulang nanti aku gak bakal bosan ya,” ucap Reyhan mengelus sprei Jenni yang berwarna pink muda.
“Maksudnya?” tanya Jenni gak ngerti yang dimaksud Reyhan.
“Kalo kita nikah nanti kan kamu harus membuatku betah dirumah,” jelas Reyhan enteng, membuat Jenni terkejut, kemudian tertawa. Mana ada orang sePD dirinya! Namun Jenni tak menyanggah perkataan Reyhan itu. Dirinya pun mengharapkan hal yang sama.
“Apa jawabanmu?”
“Kamu gak tanya apa-apa, aku harus jawab apa?” tanya Jenni heran mendapat pertanyaan aneh dari Reyhan.
“Pertanyaanku masih sama, seperti 15 tahun lalu,”
“Apa?” tanya Jenni pura-pura tak tahu, itu berhasil membuat Reyhan cemberut.
“Mana bisa kamu melupakan hal yang begitu penting?” Jenni menahan tawa mendengar Reyhan yang merajuk. “Aku bahkan selalu mengirimimu kado valentine, kado ulang tahun, mana bisa aku dilupakan begitu saja?” Jenni terkesiap, dirinya memang selalu mendapat kado-kado itu, namun tanpa nama. Baru diketahui sekarang siapa yang mengirim semua itu. Karena sibuk memikirkan semua itu, Jenni sampai tak menyadari Reyhan yang telah menuruni tangga.
“Rey,”
“Temui aku kalo kamu udah ingat pertanyaanku,” jawab Reyhan tanpa menghentikan acara turun tangganya.
***
“Aku kan belum menemuimu? Kenapa kamu mengajakku keluar? Udah gak marah?” tanya Jenni selama perjalanan kedanau. Reyhan hanya tersenyum, kemudian menuding sesuatu ditepi danau, diantara 2 pohon kelapa.
“Wow! Rey, kamu yang buat ini?” Jenni surprise mendapati sebuah ayunan disana.
“Tentu saja aku yang buat,” jawab Reyhan berbohong, karena yang mempersiapkan itu Pak Li. “Aku tau kamu gak nyaman duduk ditanah, makanya aku buatin ayunan buat kita,” jelas Reyhan. Jenni segera mencoba ayunan itu, walaupun sederhana, namun dibuat dengan kuat. Jenni segera mencari sulur berbunga disekitar sana, dan memasangnya dikedua sisi ayunan. Membuatnya semakin cantik. Reyhan mengacungkan jempolnya atas hasil karya Jenni.
“Duduk sini Rey, kita tunggu matahari sampe tenggelam lagi,” ucap Jenni, Reyhan segera duduk disampingnya, dan menggenggam tangan Jenni.
“Kenapa tanganmu dingin banget Rey?”
“Iya, aku kedinginan,” jawab Reyhan tersenyum, Jenni semakin menggenggam erat tangannya, kemudian bersandar dipundak Reyhan. Reyhan mengeratkan pegangannya pada bahu Jenni, seakan tak ingin melepaskannya.
Kenapa aku bodoh sekali selalu mengingatmu? Jika kamu bersedih nantinya karena kehadiranku, aku orang pertama yang gak bakal bisa maafin diriku sendiri.
“Besok aku jawab pertanyaanmu ya, tunggu aku disini,” Jenni tersenyum membuat Reyhan penuh harapan.
“Apa itu jawaban yang bagus?”
“Tunggu aja besok,” Reyhan gemas dengan sikap Jenni yang membuatnya penasaran.
“REYHAN!!” suara yang menggemparkan dunia mengejutkan dua insan yang tengah berkasih itu hingga Jenni hampir terjatuh karena Reyhan tiba-tiba turun dari ayunan dan mundur ketakutan.
“Kakak,”
***
“Kak, lepas kak! Malu ada Jenni kak!” seru Reyhan sepanjang jalan tangannya diseret Dion. Sedang Jenni yang tak tau harus gimana hanya cemas sambil mengikuti mereka sampai kamar Reyhan. Dia mencoba menjelaskan, namun sepertinya Dion tak mau dipengaruhi kali ini. Sampai kamar Reyhan, Dion gak cuma mendorong Reyhan masuk, tapi Dion masih menyeret Reyhan sampai kamar tidur. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang membuat Reyhan ataupun Jenni terbelalak.
“Kakak, jangan kak,” seruan Reyhan tak menyurutkan tindakan Dion, dia segera menarik tangan kiri Dion dan memborgolnya dengan ranjang. Tangan Reyhan yang satunya tak mampu menahan Dion. Jenni memandang semua itu dengan pandangan miris.
“Kamu harus operasi besok. Kondisimu harus stabil. Jangan kemana-mana,” Dion memberi ancaman kosong, karena Reyhan jelas tak bisa kemana-mana lagi.
***
“Reyhan kena kanker otak,” ucapan Dion diluar kamar Reyhan mengejutkan Jenni, melihat keterkejutan Jenni, Dion menambahkan, “tapi masih bisa disembuhkan asal segera operasi,” tambah Dion membuat Jenni sedikit tenang.
“Sejak kapan?”
“Aku juga gak tahu, yang pasti baru setahun ini gejalanya muncul. Begitu di cityscan, ternyata ada benjolan diotaknya. Dan untuk operasi itu sangat riskan, tapi melihat kondisinya yang selalu kesakitan, aku gak tega, dan keluarga setuju untuk mengoperasinya,”
“apakah akan berhasil?”
“Aku pun gak bisa memastikan. Sebenarnya kemungkinan untuk hidup lebih kecil, namun yang berhasil selamat juga banyak, aku meyakini operasinya akan sukses, mengingat benjolan itu belum terlalu besar,” jelas Dion, sesekali terdengar teriakan Reyhan dari dalam kamar.
“Yang kakak lakuin sekarang apa gak justru menyakiti Reyhan?”
“Ini demi kebaikannya, jadi kamu gak perlu khawatir. Dan kamu tau? Dia meyakini dirinya akan mati, jadi bersikeras kemari untuk menemui seseorang. Dan aku yakin orang itu kamu,” ucap Dion tersenyum, Jenni pun geli mengingat Reyhan dengan segala polahnya.
“Ya… pasti sulit juga harus jauh dari orangtua,”
“Begitulah, orangtuanya sendiri gak tega melihatnya selalu kesakitan. Mereka memaksaku untuk menyembuhkannya, kamu tau kan gimana sayangnya mereka?” Jenni mengangguk membenarkan ucapan Dion.
“KAKAK! AKU AKAN MEMBUNUHMU NANTI!! LEPASIN AKU SEKARANG JUGA!!” suara Reyhan terdengar sampai kedepan pintu. Jenni memandang pintu itu seolah bisa melihat Reyhan.
“Haha, mana mungkin aku melepaskannya kalo dia akan membunuhku nanti?” canda Dion, membuat Jenni ikut tersenyum, “Jangan khawatir, pulanglah,” Jenni pun mengangguk setelah melihat pintu kamar Reyhan sekali lagi.
***
Hari itu, Jenni beserta keluarga Reyhan ada dirumah sakit menemani Reyhan dari pemeriksaan awal hingga keruang operasi. Semuanya berdoa dengan khusyuk meminta keselamatan bagi Reyhan. Jenni menunggu dikoridor bersama Pak Li yang juga sangat cemas. Bagaimanapun Reyhan sudah seperti anaknya sendiri.
“Apa anda mencintainya?” pertanyaan Pak Li yang tiba-tiba mengejutkan Jenni, namun kemudian Jenni mengerti yang dimaksud Pak Li.
“Ya, aku sangat mencintainya. Entah kenapa, hanya keyakinanku yang membuatku belum bisa membuka hati untuk orang lain. Mungkin saja dia gak akan kembali, namun aku meyakini cintanya tulus waktu itu, hingga membuatku selalu teringat sampai sekarang. Bahkan sampai 15 tahun berlalu,” Jenni tertunduk sambil mengenang masa lalunya.
“Begitupula dengannya, dia laki-laki yang sangat pintar. Dan selalu ada tempat untuk sebuah nama, walaupun saya kira ini seperti cerita klise, namun nyatanya benar-benar ada laki-laki seperti Reyhan. Dia selalu membicarakan anda, selalu meminta saya mengirimi anda kado, dan selalu meminta pendapat saya tentang reaksi anda,” ucap Pak Li sambil tersenyum mengingat Reyhan yang selalu meminta foto Jenni.
“Haha, apa Pak Li juga memfotoku diam-diam?” Pak Li ikut tertawa, namun itu memang kenyataannya.
“Kenapa… kenapa dia gak mau menemuiku sebelumnya?” tanya Jenni tiba-tiba menjadi suram.
“Sudah saya bilang Reyhan laki-laki yang pintar, dia mencoba menumbuhkan rasa cinta sedikit demi sedikit dari anda, dengan begitu sekali dia muncul, anda akan mengenalinya. Sebenarnya, setahun yang lalu, dia ingin menemui anda, sekaligus secepatnya melamar anda. Namun ternyata dia didiagnosis terkena kanker otak, itu membuatnya sangat terpukul, dan dia menyuruh saya untuk tidak mengingatkan lagi tentang anda,” Pak Li bercerita dengan suara lirih sambil membayangkan wajah Reyhan tatkala itu, wajah yang sangat putus asa.
“Walaupun dia pintar, tapi dia ternyata juga bodoh ya,” ungkap Jenni terkekeh,”baru sadar kan dia gak bisa melupakan aku begitu saja?” Jenni melanjutkan, “tapi kenapa kado-kadonya selalu tanpa nama?”
“Yang benar? Saya selalu memberi nama untuk setiap kado itu,”
“Dimananya?”
“Ya… memang tersembunyi, tapi saya selalu memberi nama. Kalo anda tak tahu yang memberi kado itu, berarti misi saya untuk membuat anda jatuh cinta gagal?” Pak Li mengerjapkan matanya dan terbelalak. Jenni yang melihat itu menenangkannya sebelum kemudian tertawa.
“Sudahlah Pak Li, gak apa-apa. Nyatanya aku jatuh cinta walaupun tanpa kado itu,”
***
“Kenapa kamu gak pulang?” Jenni terkejut mendapati Dion telah ada disebelahnya.
“Reyhan… Pasti dia akan bertahan kan?” tanya Jenni penuh harap, walaupun operasi telah selesai, namun Reyhan masih belum sadar. Dion hanya membalasnya dengan anggukan lemah.
“Dia… Aku yakin walaupun dia nakal, dia pasti gak akan membuat semuanya khawatir. Aku sudah berusaha semampuku. Aku sangat menyayanginya, seumpama…” Dion tertunduk tak mampu meneruskan kata-katanya, tampak raut kesedihan juga kecemasan terpancar dari matanya. Jenni pun tak memaksanya berbicara, namun Dion meneruskan, “Aku orang paling bersalah seandainya ada apa-apa dengannya. Aku selalu memaksanya melakukan sesuatu yang gak disukainya, dan jika dia menolak, aku akan mengurungnya… mungkin… bagiku ini demi kebaikannya, tapi entahlah… apa dia bahagia, aku gak pernah memikirkannya,”
“Bukankah kakak bilang semua akan baik-baik saja?”
“Haha… Ya, pasti, semuanya akan baik-baik saja. Dan aku berjanji, setelah ini aku gak bakal memaksanya lagi. Kamu sebagai saksinya ya,” ucap Dion bersungguh-sungguh, membuat Jenni tersenyum kemudian mengangguk.
***
Semua menunggu Reyhan siuman diruangannya. Pengaruh obat bius masih menggelayuti matanya, dengan harap-harap cemas Jenni yang sedari kemarin menunggu hanya bisa berdoa. Ditatapnya wajah Reyhan yang berbalut alat bantu pernapasan, juga kepalanya yang telah botak karena operasi kemarin, seakan wajah itu tanpa ekspresi dan seperti enggan bangun. Tiba-tiba sebuah gerakan membuat semua yang ada diruangan itu siaga. Dan sangat perlahan, mata Reyhan terbuka, dengan terbukanya mata Reyhan, saat itu pula terdengar jerit syukur seisi ruangan. Jennipun hampir saja bersorak kegirangan.
“Rey…” panggil semua yang ada disana, Reyhan mencoba menjawab namun suaranya masih sangat lemah. Dion mendekatkan telinganya kemulut Reyhan.
“Katanya jangan keras-keras, suara kalian membuatnya pusing,” ucap Dion tertawa memberitahukan pesan Reyhan, semuanya gak ada yang bersuara, namun senyum kebahagiaan tetap tersungging dibibir mereka.
***
Seminggu kemudian.
“Rey, kamu tau… kakakmu menangis berhari-hari karena menyesal sering mengurungmu dikamar. Lucu ya… Kamu seharusnya tau betapa sayangnya dia padamu,” ucap Jenni sambil berjalan melewati rumah Reyhan. Sesekali diliriknya Reyhan yang berjalan disampingnya dengan tersenyum. Kali ini pun mereka akan ke danau. Selama perjalanan terdengar canda tawa mereka. Sebentar kemudian mereka telah sampai didanau. Reyhan dengan senyumannya berjalan mendahului melewati ayunan mereka yang indah dengan sulur yang baru. Kemudian dia berbalik dan tersenyum kearah Jenni, Jennipun berlinang air mata memandangnya. Dengan perlahan namun pasti, Reyhan semakin jauh menuju tepi danau. Jenni hanya memandangnya sambil duduk diatas ayunan. Makin lama, makin jauh Reyhan berjalan. Matahari hampir tenggelam, saat itu pula sosok Reyhan menghilang.
“Reyhan?” Jenni terkejut segera bangkit, namun sesaat kemudian dia menangis.
Tiga hari telah berlalu, kenanganmu akan aku bawa selalu. Kamu tau? Walaupun kamu belum mendengar jawabanku, aku jawab pertanyaanmu dulu dengan pasti, kalau aku mau jadi istrimu. Selamanya. Tapi kenapa kamu gak bisa nunggu lebih lama lagi? Dan memilih meninggalkanku sekarang?
Jenni menatap danau didepannya dengan pandangan nanar. Seolah wajah Reyhan masih terlukis disana. Tiga hari Reyhan telah meninggalkan semuanya, termasuk dirinya. Operasi yang berhasil tak mampu membawanya untuk tetap hidup, kondisinya semakin memburuk hingga ajal harus membawanya.
Angin semilir menandakan sebentar lagi matahari akan menghilang.
“Ya Rey, semuanya akan kembali ke asalnya. Dan kamu bodoh jika mengira aku akan menyesal telah bertemu denganmu, karena justru sekarang aku menangis… karena bahagia… pernah mengenal orang sepertimu…” setetes air mata kembali mengalir dipipi Jenni yang telah membentuk aliran sungai. Matanya yang sembab tetap menunggu matahari untuk terbenam, tangannya yang indah tetap menyentuh untaian sulur di ayunan milik mereka. satu yang membedakan, seseorang yang seharusnya bisa digenggamnya disamping ayunan itu yang telah membiarkan tempat itu kosong untuk selamanya.
THE END
PROFIL PENULIS
Nama lengkap : Suri Mawarsari
TTL : Semarang, 28 Oktober 1992
FB; luphu_cweedh@yahoo.co.id
Thank you... ^_^
TTL : Semarang, 28 Oktober 1992
FB; luphu_cweedh@yahoo.co.id
Thank you... ^_^
5 Kisah Nyata Hubungan Terlarang Manusia
Setiap manusia di dunia ini diciptakan
berpasang-pasangan, ada laki-laki ada juga perempuan. Namun ternyata
hal itu tidak berlaku pada segelintir orang ini, mereka lebih memilih
menjalin hubungan terlarang dengan binatang daripada dengan sesama manusia. Memang kedengaran sangat aneh dan menggelikan, tapi itulah fakta yang terjadi.
Entah apa yang sudah terjadi di dunia ini, apakah sudah tidak ada lagi
wanita cantik yang bisa mereka begitukan, atau memang mereka ini sudah
kehilangan akal sehat ? Mungkin hanya mereka dan tuhanlah yang tahu.
Inilah Kisah Nyata 5 Hubungan Terlarang Manusia dan Binatang yang pernah terjadi, simak kisahnya dan apa yang menjadi motif pelaku melakukan hal 'najis' dan 'hina' seperti itu.
1. Kisah Kakek Ketut Setubuhi Sapi Betina
Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Seririt, Desa Joanyar. Tak
tanggung-tanggung yang menjadi pelaku adalah seorang kakek yang bernama
Ketut M. Kejadian ini bermula saat sang kakek datang ke peternakan
tetangganya yang bernama Nyoman Toya. Kala itu, Ketut bertutur bahwa
saat melihat Sapi tetangganya ia merasa seperti melihat sosok tubuh
wanita yang cantik jelita. Saat itu juga Ketut langsung menyetubuhi sapi
betina yang ada dalam kandangnya. Apesnya saat melakukan hal tersebut,
ia langsung dipergoki oleh warga setempat.
Sang Kakek yang ketahuan berhubungan dengan Sapi betina tadi langsung
dibawa ke balai adat desa setempat untuk diberi hukuman setimpal atas
kelakuannya. Keputusan yang didapat yaitu Kakek Ketut dan Sapi Betina
tadi harus melakukan upacara balik sumpah, yaitu upacara yang bertujuan
untuk membersihkan desa mereka dari kekotoran perbuatan hina yang
dilakukan Ketut.
Dalam upacara balik sumpah, pelaku dilarung bersama sapi betina ke
tengah laut. Proses ini disaksikan oleh seluruh warga desa. Wah, malu
banget ya pasti kakek itu. Siapa suruh main sama sapi. Kakek stres.
2. ABG setubuhi ayam dan sapi
Kisah Nyata berikutnya hubungan terlarang manusia dan binatang datang
dari Pulau Dewata, Bali. Berbeda dengan kisah pertama tadi, kali ini
pelakunya adalah seorang remaja ABG, dengan korbannya tidak
tanggung-tanggung adalah seekor ayam dan sapi. ABG berinisial KS yang
berusia 16 tahun ini berhasil ditangkap karena melakukan hal tidak
senonoh kepada ayam dan sapi. Saat diinterogasi, ia mengaku sesaat
sebelum melakukan hal itu ia seperti melihat ayam dan sapi tersebut
seperti seorang wanita cantik. Ucapnya ia melakukan hal itu diluar
kesadarannya. Diketahui bahwa KS pernah juga sebelumnya menyetubuhi
sapi-sapi milik warga lainnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif, polisi menjelaskan bahwa
KS mengaku sebelum kejadian itu terjadi, ia sempat didatangi oleh
makhluk ghaib pada pukul 12.00 siang hari dan ia diperintahkan untuk
menyetubuhi seekor ayam. Sebelum KS menyetubuhi ayam tersebut, ia
terlebih dahulu mencekek leher ayam hingga ayam itu mati.
Anak umur 16 tahun ini dipergoki oleh warga saat sedang melakukan
aksinya disebuah kompleks perumahan pada siang hari. Namun akhirnya
bocah ini dibebaskan oleh Polisi dan diantarkan kembali ke orang
tuanya.
3. Setelah Bersetubuh Dengan Anjing, Wanita Ini Tewas
Kisah nyata berikutnya datang dari luar negeri yaitu di Negara Irlandia.
Kejadian ini terjadi pada tanggal 23 Oktober 2013, saat ditemukan,
wanita berusia 43 tahun ini tewas karena alergi berlebihan sehingga
membuatnya sulit bernafas. Setelah ditelusuri rupanya sebelum ia tewas
ia sempat melakukan hubungan terlarang dengan seekor anjing dari ras
german stepherd.
Dalam kisahnya, wanita ini memang memiliki perilaku menyimpang dan
berawal dari perbincangannya di dunia maya dengan seorang pria bernama
Sean McDonnell. Mc Donnell lah yang menawarkan kepada wanita tersebut
untuk mencoba melakukan hubungan terlarang dengan anjingnya.
4. ABG Dipergoki Warga Menyetubuhi Sapi
Kisah nyata ini terjadi di Bali, tepatnya di Kabupaten Jembrana. Seorang
ABG berusia 18 tahun ini didapati sedang bersetubuh dengan sapi di tepi
pantai. Pantai di daerah sana adalah sebuah tempat khusus biasanya
warga menggembala sapi.
Entah apa yang ada dalam benak ABG ini melakukan hal itu dengan sapi dan
ditepi pantai pula. Lantas tindakan tersebut dipergoki oleh warga dan
AG pun tak bisa mengelak.
5. Dibunuh Setelah Setubuhi Keledai Betina
Kisah nyata terakhir datang dari luar negeri yaitu negara Portugal. Kali
ini korbannya adalah seekor kedelai. Pria ini bernama Jaime Pires
berusia 68 tahun. Jaime melakukan hubungan terlarang ini saat pemilik
kedelai tidak ada dirumah, ia pun dengan membabi buta langsung
menyetubuhi kedelai betina milik warga. Apes bagi Jaime, pemilik kedelai
memergoki aksinya dan langsung emosi, seketika Jaime langsung dibunuh
menggunakan pisau cukur.
Diketahui bahwa sebelumnya bahwa Jaime memiliki perilaku menyimpang
sehingga dulunya Jaime pernah diusir dari kampung halamannya. Menurut
kabar yang didapat, aksi gila Jaime tersebut sudah berlangsung lebih
dari 12 tahun. Ia pernah menyetubuhi domba, ayam, sapi, keledai, dan
lain-lain. Semua aksinya sering dipergoki oleh warga.
Harapan Dari Sebuah Roti
Sore itu di depan mushollah di sebuah kampus, Aku andira (Nama Samaran) bertemu dengan seorang laki-laki bernama ARIL (nama samaran)
Dia seorang senior, tapi tak pernah ku temui sebelumnya, pada saat itu aku dan dia bertemu di depan mushallah yang berada didalam kampus kami, pertemuan pertama kami meninggalkan kesan yang sangat baik, dia terlihat sangat sopan tapi aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. aku hanya menganggapnya seniorku,
yaaaaaa,,,,,, hanya sebatas senior bagiku, senior yang harus ku hormati,,
kami pun mulai saling menyapa dan dia mengajakku untuk menonton permainan bola kaki yang diadakan dikampus kami kemudian memberikan ku sebuah roti, yaaah sebuah roti yang menjadi sebuah kesan pertama.
3 hari kemudian.........................
Telpon ku berdering, aku mulai meLihatnya ternyata yang muncul dilayar telponku adalah no baru, aku tidak tau siapa pemiliknya, aku hanya mengetahui bahwa itu adalah no baru, setelah ku angkat ternyata seniorku yang kutemui beberapa waktu yang lalu, dia menelpon ku, tpi entah mengapa aku sangat bahagia,,,, hal pertama yang ku ingat dari seniorku itu adalah sepotong roti yang ia berikan padaku saat kami pertama kali ketemu.
Tanpa ragu-ragu dia mulai menyatakan perasaanya kepadaku, dia mencintaiku saat pertama kali ketemu, hal itulah yang ia katakan padaku. dia ingin aku menjadi bagian hari-harinya,
berhari2 dia menunggu jawaban dariku, dia memperjuangkan kuuu,,
hingga melalui beberapa pertimbangan aku pun menerimanya. walaupun cnta terhadapnya belum ku temukan tapi aku ingin mencoba mencintainya karena dia telah berani memperjuangkan ku.
dan kami mulai resmi pacaran. aku dan dia berada dalam satu ikatan yang disebut PACARAN.
Seiring berjalannya waktu aku dan dia semakin akrab tapi ironisnya hubungan kami tidak seperti hubungan orang pacaran laiinnya, ada beberapa hal yang menjadi penghalang diantara kami salah satunya adalah ketika saya ingin bertemu dengannya saya harus mempunyai banyak alasan dan kebohongan yang harus ku berikan kepada pamanku agar dia mengizinkan aku keluar untuk menemuinya,,,,
Waktu pun berjalan begitu cepat, hari demi hari kulalui hanya sebagai status pacaran, mimpi yang pernah kami bina untuk makan roti bersama di warung sebelah tidak pernah terwujud hanya karena doktrin ketakutanku akan kemarahan pamanku,
Suatu hari aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya dan jalan berdua dengannya diacara pesta pernikahan temanku yang bernama risnah.aku dan dia serta teman-temanku yang lain pergi bersama, di sepanjang perjalanan aku telponnya selalu berdering aku tidak tau siapa yang menelponnya tpi yang aku tau dia mengatakan bahwa sepupunya lah yang menelponnya, kecurigaanku semakin bertambah ketika diperjalanan pulang aku melihat sms yang dibukanya di tengah jalan dimana isi pesannya menggunakan kata "SAYANG" seketika itu tanganku dingin dan gemetar, di benakku terlintas fikiran negativ terhadapnya apalagi saat dia tdk ingin aku melihat handphone nyaaa.
Entah mengapa pada saat itu hatiku marah, aku sedih, apakah ini yang dikatakan cinta ?
apakah ini yang dikatakan sakitnya perselingkuhan ?
aku tak sanggup memahaminya
Kujalani hari-hariku seperti biasanya, sikapku terhadanya dan sikapnya terhadapku hanya sebatas senior dan junior, seakan-akan kami tidak pernah saling kenal lagi, seakan akan kami tidak pernah memiliki hubungan yang lebih dari teman.
Dan mungkin dengan sikap ku yang beginilah dia mulai bosan terhadapku, mungkin dia malu kepada teman-temannya karena dia memiliki pacar sepertiku, itulah yang ada dibenakku saat itu.
Yaaaaa,,,, wajar jika dia mendambakan cinta yang sempurna, tpi apalah dayaku aku bukan wanita yang sempurna tpi aku telah berusaha menjadikan cntaku terhadapnya sempurna.
6 bulan sudah usia pacaran kami....
selepas dari acara temanku dia tidak pernah lagi menelponku,,,
hingga aku tersadar akan pertemuan prtamaku dengan dia,
dia memberikan aku sebuah roti dan itulah simbol cintanya terhadapku,,
seperti sebuah roti yang mampu menjadi penahan lapar tapi tidak bertahan lama
seperti sebuah roti yang ktika ada merk roti yang baru kita akan melupakannya,
yaaaaaa,,,, kisahku sperti sebuah roti
yang menjadi rebutan disaat orang-orang kelaparan
Dia seorang senior, tapi tak pernah ku temui sebelumnya, pada saat itu aku dan dia bertemu di depan mushallah yang berada didalam kampus kami, pertemuan pertama kami meninggalkan kesan yang sangat baik, dia terlihat sangat sopan tapi aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. aku hanya menganggapnya seniorku,
yaaaaaa,,,,,, hanya sebatas senior bagiku, senior yang harus ku hormati,,
kami pun mulai saling menyapa dan dia mengajakku untuk menonton permainan bola kaki yang diadakan dikampus kami kemudian memberikan ku sebuah roti, yaaah sebuah roti yang menjadi sebuah kesan pertama.
3 hari kemudian.........................
Telpon ku berdering, aku mulai meLihatnya ternyata yang muncul dilayar telponku adalah no baru, aku tidak tau siapa pemiliknya, aku hanya mengetahui bahwa itu adalah no baru, setelah ku angkat ternyata seniorku yang kutemui beberapa waktu yang lalu, dia menelpon ku, tpi entah mengapa aku sangat bahagia,,,, hal pertama yang ku ingat dari seniorku itu adalah sepotong roti yang ia berikan padaku saat kami pertama kali ketemu.
Tanpa ragu-ragu dia mulai menyatakan perasaanya kepadaku, dia mencintaiku saat pertama kali ketemu, hal itulah yang ia katakan padaku. dia ingin aku menjadi bagian hari-harinya,
berhari2 dia menunggu jawaban dariku, dia memperjuangkan kuuu,,
hingga melalui beberapa pertimbangan aku pun menerimanya. walaupun cnta terhadapnya belum ku temukan tapi aku ingin mencoba mencintainya karena dia telah berani memperjuangkan ku.
dan kami mulai resmi pacaran. aku dan dia berada dalam satu ikatan yang disebut PACARAN.
Seiring berjalannya waktu aku dan dia semakin akrab tapi ironisnya hubungan kami tidak seperti hubungan orang pacaran laiinnya, ada beberapa hal yang menjadi penghalang diantara kami salah satunya adalah ketika saya ingin bertemu dengannya saya harus mempunyai banyak alasan dan kebohongan yang harus ku berikan kepada pamanku agar dia mengizinkan aku keluar untuk menemuinya,,,,
Waktu pun berjalan begitu cepat, hari demi hari kulalui hanya sebagai status pacaran, mimpi yang pernah kami bina untuk makan roti bersama di warung sebelah tidak pernah terwujud hanya karena doktrin ketakutanku akan kemarahan pamanku,
Suatu hari aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya dan jalan berdua dengannya diacara pesta pernikahan temanku yang bernama risnah.aku dan dia serta teman-temanku yang lain pergi bersama, di sepanjang perjalanan aku telponnya selalu berdering aku tidak tau siapa yang menelponnya tpi yang aku tau dia mengatakan bahwa sepupunya lah yang menelponnya, kecurigaanku semakin bertambah ketika diperjalanan pulang aku melihat sms yang dibukanya di tengah jalan dimana isi pesannya menggunakan kata "SAYANG" seketika itu tanganku dingin dan gemetar, di benakku terlintas fikiran negativ terhadapnya apalagi saat dia tdk ingin aku melihat handphone nyaaa.
Entah mengapa pada saat itu hatiku marah, aku sedih, apakah ini yang dikatakan cinta ?
apakah ini yang dikatakan sakitnya perselingkuhan ?
aku tak sanggup memahaminya
Kujalani hari-hariku seperti biasanya, sikapku terhadanya dan sikapnya terhadapku hanya sebatas senior dan junior, seakan-akan kami tidak pernah saling kenal lagi, seakan akan kami tidak pernah memiliki hubungan yang lebih dari teman.
Dan mungkin dengan sikap ku yang beginilah dia mulai bosan terhadapku, mungkin dia malu kepada teman-temannya karena dia memiliki pacar sepertiku, itulah yang ada dibenakku saat itu.
Yaaaaa,,,, wajar jika dia mendambakan cinta yang sempurna, tpi apalah dayaku aku bukan wanita yang sempurna tpi aku telah berusaha menjadikan cntaku terhadapnya sempurna.
6 bulan sudah usia pacaran kami....
selepas dari acara temanku dia tidak pernah lagi menelponku,,,
hingga aku tersadar akan pertemuan prtamaku dengan dia,
dia memberikan aku sebuah roti dan itulah simbol cintanya terhadapku,,
seperti sebuah roti yang mampu menjadi penahan lapar tapi tidak bertahan lama
seperti sebuah roti yang ktika ada merk roti yang baru kita akan melupakannya,
yaaaaaa,,,, kisahku sperti sebuah roti
yang menjadi rebutan disaat orang-orang kelaparan
Langganan:
Postingan (Atom)











